Postingan

Menampilkan postingan dari Juli 26, 2013

Puisi W.S. Rendra

“Seonggok jagung di kamar   dan seorang pemuda   yang kurang sekolahan. Memandang jagung itu,   sang pemuda melihat ladang;   ia melihat petani;   ia melihat panen;   dan suatu hari subuh,   para wanita dengan gendongan  pergi ke pasar ………..   Dan ia juga melihat   suatu pagi hari   di dekat sumur   gadis-gadis bercanda   sambil menumbuk jagung   menjadi maisena.   Sedang di dalam dapur   tungku-tungku menyala.   Di dalam udara murni   tercium kuwe jagung. Seonggok jagung di kamar   dan seorang pemuda.   Ia siap menggarap jagung   Ia melihat kemungkinan otak dan tangan   siap bekerja Tetapi ini : Seonggok jagung di kamar   dan seorang pemuda tamat SLA   Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.   Hanya ada seonggok jagung di kamarnya. Ia memandang jagung itu   dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .   Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.   Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.   Ia melihat saingannya naik sepeda motor.   Ia melihat nomor-nomor lotr